Standar Kompetensi


Standar Kompetensi yang dipakai dalam judul postingan ini masih bernuansa Kurikulum Berbasis Kompetensi sebagaimana yang saya ikuti dalam pelatihan AA (Applied Approach) yang diadakan sebuah Universitas Negeri yaitu UNS, kami dilatih untuk merumuskan Standar Kompetensi yang merupakan pencapaian akhir dari mata kuliah yang diasuh. Jadi, bila saya mengajar mata kuliah Teologi Agama Agama maka saya harus memikirkan apa tujuan yang hendak saya capai dalam mata kuliah teologi agama-agama. Rumusan Standar Kompetensi tersebut wajib menggunakan kata kerja operasional yang cocok dengan Standar Kompetensi atau SK. Setelah itu dipecahkan lagi menjadi beberapa Kompetensi Dasar, minimal 3 Kompetensi Dasar (KD) dengan sejumlah indikator yang dapat dipelajari selama 16 kali pertemuan. Setiap Kompetensi Dasar menggunakan Kata Kerja Operasional yang relevan dengan perubahan apa yang hendak dicapai dalam diri peserta didik berkenaan dengan topik yang dibahas. Apakah perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik. Setiap level kecakapan itu memiliki tingkatan dengan kata kerja operasional yang dipakai. Ini berarti tidak elok bila menggunakan seluruh pembahasan KD dengan menggunakan kata kerja operasional "menjelaskan". Bila ini terjadi maka dosennya dipastikan malas atau belum punya sertifikat AA yang diikuti dari pelatihan yang diselenggarakan oleh Universitas yang memiliki hak menyelenggaran Pelathan AA bagi dosen.

Sering dengan perubahan yang terjadi, kurikulumpun berganti, Kurikulum Berbasis Kompetensi yang dipakai di PT dialihkan ke upaya mempersiapkan mahasiswa masuk dalam dunia kerja yang semakin kompetitif maka mulailah penggunaan KKNI, dalam kurikulum berbasis KKNI di Perguruan Tinggi termasuk Sekolah Tinggi Teologi, Beberapa kata yang populer dalam KBK diganti dengan istilah-istilan atau tepatnya frasa seperti: Capaian Pembelajaran (CP), Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPM), Capaian Pembelajaran Khusus (CPK) dll. Oleh karena itu, saya menggunakan frasa yang dipakai dalam KKNI yaitu Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPM) dalam menganti Standar Kompensi berikut ini:
Adapaun Capaian Pembelajaran Mata Kuliah ini yakni: Mahasiswa menganalisis (C4) dan mengubah perilaku (A5) pendekatan teologis (respon teologis) Kristen terhadap pluralitas agama di luar dirinya.

Dalam rumusan Capaian pembelajaran di atas menjadi jelas tentang apa tujuan dosen dalam mengaarkan mata kuliah teologi agama-agama. Saya merumuskan CP MK Teologi Agama-agama dengan menggunakan kata kerja operasional kecakapan Cognitif tingkat 4 dan Afektif tingkat 5. Hal ini disebabkan karena dalam rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan pada point 1 dikatakan bahwa: level magisten adalah mereka yang disiapkan untuk mampu menganalisis, sedangkan level program doktor adalah menemukan teori-teori atau konsep-konsep baru. Bila seorang doktor hanya nebeng pada ilmu yang sudah ada atau katakanlah diktat dosennya ketika studi S3 maka dosen demikian sebenarnya masih level S3 rasa S2. Sudah selesai S3 teologi tetapi belum punya teori. Salah satu teori saya adalah "Kurikulum dalam Alkitab dan Alkitab dalam Kurikulum". Ada teman biblika yang mengkritik tetapi teman itu belum punya teori, ia belum juga mempublikasi hasil tafsirnya sebagai seorang pengajar bahasa Alkitab. Bersyukur bagi mereka yang ahli Biblika dan mempublikasikan beberapa tafsir terhadap teks Alkitab dan mempublikasikannya sehingga orang lain mendapat pengetahuan biblika. Hanya berani di kelas tetapi tidak berani menulis tafsir Alkitab dan publikasi di blog. Saya sering tidak menggunakan diktat dosen yang pernah mengajar saya, saya lebih cenderung pakai buku yang terbaru yaitu buku yang diterbitkan tidak lebih dari 10 tahun pada saya digunakan. Bila kita membiasakan diri demikian maka selalu ada ide-ide baru. Ada materi materi yang dilihat dari sisi kemanfaatan (sisi aksiologi ilmu) lebih bermanfaat. Misal suatu hari dalam pengalaman belajar di Program Magister, saya memasukan "Blog" dan "Youtube" dalam mata kuliah yang saya asuh. Mungkin ada yang meremehkan dan berkata untuk apa masukan blog dan Youtube dalam mata kuliah, bukankah orang bisa belajar sendiri?. Benar namun dalam praktiknya hanya sedikit orang yang dengan kesadaran pribadi membangun atau memanfaatkan blog seperti blogspot dan wordpress untuk mempublikasikan bahan ajar atau menjadi dosen blogger atas mata kuliah yang diasuh, atau memanfaatkan blog untuk lembaga dan Program Studi. Dalam rangka kemanfaatan itulah saya memasukan 2 media ini dalam materi kuliah saya untuk sebuah mata kuliah yang saya asuh. Saya melakukan itu karena saya sudah menggunakan blogspot dan wordpress untuk menulis mata-mata kuliah yang pernah saya asuh termasuk mata kuliah teologi agama-agama. Apakah ada dasar Alkitab dalam menggunakan Blog dan Youtube? Ya ada, Yesus menggunakan perahu untuk mengajar. Perahu adalah salah satu teknologi manusia, demikian juga blog dan Youtube. Kedua media ini adalah teknologi yang dapat kita pakai untuk eksistensi diri kita sebagai seorang dosen, khususnya mahasiswa S2 Teologi maupun Pendidikan Agama Kristen yang menjadi mahasiswa saya. Mereka diharapkan (menurut saya) dapat membuat blog untuk eksietensi mereka sebagai mahasiswa, dan sebagai guru dan pelayan Tuhan. Blog dan Youtube dapat dipakai untuk pribadi, untuk profesis seperti guru, pendeta, dosen dan blog juga dapat dipakai untuk blog lembaga dan program studi. Kita tidak perlu malu menggunakan blog free, toh ada bapak-bapak kita yang Prof., ada pula yang menggunakan blog. Apalagi saya yang baru Doktor. Jadi, saya tidak perlu malu karena menggunakan blog dan youtube free untuk menjadi sesuatu yang bernilai. Kita bisa kolaborasi blog dan Youtube untuk pengajaran kita.
Sebagai entrepreneur dalam bidang pendidikan, kita dapat menerapkan apa yang dikatakan pak Ciputra: "Seorang entrepreneur adalah orang yang mampu mengubah kotoran menjadi emas". Siapa yang tahu tempat Ancol sekarang? Bagiaman kondisinya pada zaman ketika belum dibangun menjadi taman impian. Namun tempat tersebut ketika ada dalam tangan para entrepreneur, tempat itu diubah menjadi tempat yang sangat terkenal di Indonesia maupun di dunia. Prinsip yang sama kita dapat terapkan ke dalam blog yang free seperti blogspot dan wordpress. Sebagai seorang entrepreneur bidang pendidikan, kita dapat mengubah blog free untuk bahan ajar kita seperti membuat bahan ajar online, membuat blog lembaga, membuat blog Program Studi. Kita bisa menata blogspot menjadi blog yang penampilannya tidak kalah bahkan lebih profesional dari tampilan situs-situs berbayar. Hal ini saya sudah lakukan. Itulah sebabnya saya jadikan menjadi pengalaman belajar mahasiswa.


Salam
Yonas Muanley

Beberapa contoh pemanfaatan blog free menjadi blog yang tampil secara Profesional dapat Anda lihat dalam beberapa blog pribadi berikut ini:

Blog Tentang Entrepreneur. Blog ini saya buat sebagai bagian dari mengajar Entrepreneur
Toko Online YM
Blog Kolaborasi Youtube dan BlogSpot. Video Yonas Muanley 

Blog Mengajar Blog yang terakhir ini belum saya lengkapi dengan artikel-artikel. Saya akan usahakan nanti. Namun Anda dapat mengikuti "Blog Bahan Ajar Online dari saya yang sudah banyak di google.
Ada pula situs berbayar miliki saya yaitu MEDIA ILMIAH

Comments